Optimisme adalah kehidupan sosok seorang muslim

Tulisan Awal Pekan (TAP). H.M. Adib Abdushomad, M.Ag, M.Ed

Ketika Allah swt, berencana akan menciptakan manusia, maka Allah swt menyampaikan rencananya kepada para Malaikat. Pada suatu riwayat dikatakan bahwa para malaikat sempat memberikan “nota keberatan” terkait dengan  manusia yang akan diciptakan itu. Kata para malaikat bahwa manusia yang akan diciptakannya itu akan banyak menumpahkan darah alias berperang dan mudah sekali putus asa alias bosan. Keberatan para malaikat tersebut rupa-rupanya sekarang bisa kita saksikan mulai dari zaman dahulu kala sampai sekarang kayaknya sejarah manusia tidak lepas dari pertumpahan darah dengan berbagai alasan; mulai dari sumber daya alam, politik kekuasaan sampai dengan mempertahankan ideology yang diyakininya.

Tulisan akhir pekan ini  akan membahas keberatan malaikat yang menyindir manusia sebagai sosok yang mudah sekali bosan srtategi dalam mensikapi  kebosanan hidup tersebut menjadi manusia yang selalu optimis.  Bosan bisa  menghinggapi siapa saja, akademisi, researcher, apalagi student seperti kita ini. Kenyataan inilah yang  juga bagian dari nota keberatan yang disampaikan oleh para malaikat bahwa manusia yang akan diciptakannya itu memiliki bahaya laten, bosan. Padahal esensi Allah swt mencipatkan manusia tersebut adalah karena Allah swt telah melengkapinya dengan harapan supaya tidak bosan.  Inilah mengapa ketika Allah swt ditanya oleh para malaikat bahwa manusia akan bosan, maka dijawab tidak, saya (kata Allah swt)akan memberikan harapan kepada manusia.

Dengan harapan inilah manusia menjadi tidak bosan, alias akan selalu optimis. Inilah mengapa Allah swt menciptakana manusia dengan meniupkan bersamanya harapan dan optimisme. Oleh karena itu, barangsiapa yang di dalam dirinya sudah kehilangan harapan dan optimimisme, maka sesungguhnya dia telah kehilangan wujud Tuhan dalam dirinya. Karena dia menggangap Tuhan tidak memiliki kemampuan untuk mewujudkan apa yang menjadi harapannya. Padahal optimisme haruslah selalu menyertai setiap kehidupan umat manusia.

Optimismen adalah harapan, ia adalah berkeyakinan bahwa kesudahan adalah yang terbaik. Ketika Anda memandang mawar janganlah memandang difokuskan kepada durinya. Ketika Anda akan berpergian, jangan bayangkan perpisahan ketika Anda  berpergiuan. Jangan menduga bahwa ketika malam kelam, matahari tidak akan bersinar/terbit lagi. Tidak! Matahari akan terbit lagi pada pagi harinya (sebagaimana terekam dalam surat al-Dhuha. Allah berfirman “wa dhhuha wal laili idza sadja..et). Tapi, jangan mengharapkan terbitnya matahari pada saat kelamnya malam, itu bukanlah optimisme yang diajarkan.  Karena itu adalah merupakan “angan-angan bolong” yang kalau hinggap di hati Anda sesungguhnya merupakan tipuan dan rayuan syetan.

Jangan terbawa oleh angan-angan atau optimisme yang tidak berdasar. Tetapi berserah dirilah hanya kepada Allah swt dan berusahalah. Jika ada yang berkata kepada Anda untuk mematahkan semangat  dan harapan Anda dengan mengatakan bahwa pekerjaan itu tidak mungkin, maka minta agar dia buktikan bahwa itu mustahil. Karena dengan membuktikan mustahil maka sebetulnya ia akan melakukan sesuatu. Inna ma’al usri yusra. Sesungguhya dalam setiap problem didalamnya ada dua peluang, kemudahan. Bahkan didalam setiap problem ada dua peluang.  Kata sayyidna Umar, tidak mungkin satu mengalahkan yang dua. Kehidupan seorang Muslin adalah kehidupan yang penuh dengan optimisme  yang berdasar dan disertai dengan bantuan Allah . Allah yang mampu dan berkuasa. Sekali lagi dapatlah ditegaskan bahwa orang yang kehilangan harapan atau optimisme, pada hakekatnya telah kehilangan kepercayaan kepada Tuhan, Allah swt. , Tuhan yang mampu dan kuasa memberikan segala hal, yang tadinya tidak mungkin jadi mungkin, karena Allah selalu wujud dan memberikan apa yang dikehendaki hambanya. Karena itu pesan al-Qur’an Wa ila rabbika farghob, “Hendaklah engkau selalu berharap kepada Allah swt”. Jauhkanlah segala pesimisme dalam hidup Anda. Jauhkan ada kata-kata sial atau negative lainnya. Nabi Muhammad dalam rangka membangun karakkter optimisme itu, suka sekali dengan kata-kata yang sifatnya membangun, positif.  Beliau suka kalimat-kalimat yang Indah,yang merupakan loncatan-loncatan optimisme. Ketika ada perjanjian hudaibiyyah, ada utusan yang bernama sahl, yang artinya mudah dan memang urusan kemudian dipermudah oleh Allah swt.

Selamat menyapa hari-hari baru dengan penuh semangat…Semoga saya dan teman-teman lain bisa memulai awal pekannya dengan bagus.

Allahumakdzi  fi qulubina raja’an,  waktho’ raja’an aman syiwa. Allahuma inna nasaluka minfujatil khair,  wanaudzubika min fuj’ati syar. (kami memohon kepada kami menganugrahkan kepada kami kejutan2 yang membawa kebaikan dan hindarkan kepada kami kejutan atau harapan yang terputus yang membawa bencana) NB:  Sebagian tulisan awal pekan  (TAP )Kajian Islam Adelaide  ini ini diinspirasi oleh ceramah Prof. Dr.Quraish Shihab

 

 

 

Informasi:
  • Sejak 5 Mei 2012, PaGI hadir juga dalam versi mobile.
  • Ucapan terima kasih jika Anda berkenan klik LIKE di kotak LIKE Facebook di bagian kanan atas! (Hanya di versi dekstop).
  • Ucapan terima kasih jika Anda berkenan share artikel blog ini melalui jejaring sosial Anda.

Related Posts

One Response to Optimisme adalah kehidupan sosok seorang muslim

  1. ahmad says:

    alhamdulilah sungguh luar biasa karunia Allah itu ya pak..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

* 0+10=?

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Read previous post:
Pedagogi Kritis

APA ITU CRITICAL PEDAGOGY…? 1. Secara bahasa pedagogi berasal dari bahasa yunani kuno terdiri dari dua kata yaitu Pais yang...

Close