SASTRA SEBAGAI TERAPI HATI (DALAM PENDIDIKAN KARAKTER)
Oleh :
Muh. Sutrisno
Instansi : SMP Negeri 2 Gerokgak
Ketika pendidikan membuahkan prestasi bagi generasi bangsa, banyak kalangan tidak banyak membicarakannya. Hal itu hanyalah menjadi topik acara di stasiun televisi ,semacam Kick Andy. Itupun terkadang out of date, sudah lewat. Sebaliknya, bila ada yang some thing wrong , ada masalah pada bangsa ini, pendidikan ditunjuk hidungnya. Menjadi kambing hitam. Termasuk ketika maraknya pemberitaan NII, anarkisme warga, tawuran antar anak sekolah sampai mahasiswa bahkan kasus terorisme serta radikalisme. Semua kalangan tampak ribut. Pengamat meraja lela. Tak urung Pak Mentri Pendidikan ikut kelabakan- kebakaran jenggot. Maklum Pak Beye, sang Presiden telah menyentil untuk meninjau ulang kurikulum pendidikan.
Konsekuensinya, Pak Mentri mengkaji ulang kurikulum yang telah berlaku saat ini. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Tambal sulam pun terjadi. Harus ditambah karakter bangsa. Padahal KTSP sendiri , yang diuji cobakan sejak tahun 2006 sudah sulaman dari kurikulum sebelumnya , Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) tahun 2004. Itu pun belum sepenuhnya dikuasai benar oleh guru. Praktis tambal sulam ini hanya makan waktu 2- 4 tahunan. Suatu waktu yang relatif pendek untuk melihat berhasil tidaknya penerapan kurikulum. ( Bandingkan pada kurikulum yang lalu , tahun 1984 berlaku lalu tahun 1994 baru ada perubahan). Jadi jangan salahkan kalau guru kebingungan
menjalankannya. Seperti pendekar mabuk, yang pasang jurus tanpa sepenuh kesadaran. Main tangkis dan elak saja.
Quo Vadis Pendidikan Indonesia?
Kabarnya Indonesia adalah negara subur makmur dengan senyum keramahan warganya. Ini diakui turis manca. Tapi, sekarang bagaimana? Kearifan lokal yang sarat makna hanya tinggal retorika belaka. Budaya tenggang rasa ,tepo sliro atau mulat sarira kalah dengan nilai ego, “aku ya aku, lu …lu !”. Tipe hidup sederhana dan bersahaja hilang berganti konsumtif di mana-mana. Yang parah yakni nilai- nilai kejujuran yang harusnya dipertahankan oleh semua hancur berkeping-keping jadi budaya rekayasa. Pajak direkayasa. Pilihan pejabat direkayasa. Kelulusan pun juga direkayasa. Terlalu.…….( pinjam istilah Bang H.Rhoma ). Pantas , pendidikan jadi bulan-bulanan kesalahan.
Sejatinya kalau ingin mengobati sakitnya bangsa ini haruslah dengan terapi menyeluruh. Tidak bisa sepenggal-sepenggal. Sebab simpul yang satu telah menyatu dengan simpul yang lain. Saling terkait dan mengikat. Susah dirunut mana yang terlebih dahulu. Ibaratnya sama susahnya dalam menyimpulkan mana duluan ayam dengan telor. Yang bijaksana adalah masing-masing simpul berdaya guna memperbaiki diri. Introspeksi! Sehingga tidak mudah tunjuk hidung orang lain, namun hidung dirinya dilupakan.
Akan halnya dunia pendidikan bahwa ada yang kurang greget dalam pendidikan sekarang ini. Pemerintah bahkan telah menemukan bahwa Pendidikan selama ini kurang Berkarakter . Miskin Karakter. Oleh karena itu , pada tahun 2011 telah ditetapkannya Kurikulum Barbasis Akhlak Mulia dengan harapan dapat membangun karakter bangsa. Butir-butir karakter pun disertakan pada indikator pembelajaran setiap mata pelajaran. Nilai kejujuran, santun, logis, dan sejenisnya adalah contoh butir-butir nilai karakter itu. Mestinya harus disadari bahwa nilai-nilai karakter bangsa ini tidak hanya sebatas hitam di atas putih yang harus diajarkan . Tetapi, pendidikan yang harus dilatari perasaan tulus yang manunggal dalam diri pendidik. Sehingga dari ketulusan ini , membentuk perkembangan fisik dan mental peserta didik. Oleh karena itu, pendidikan berkarakter haruslah dimulai oleh pendidik yang berkarakter. Pendidik yang telah cinta dan menikmati cinta itu dengan ekpresif. Cinta kepada pendidikan, tanpa pretensi apa- apa. Tulus , ikhlas melakoni sehingga menjadi kesenangan yang memuaskan hati. Lepas dan lega. Seperti teori Issacs (dalam Lickona , 1999 ) bahwa ketulusan dan keikhlasan hati ( sincerity) adalah kebajikan dari 24 kebajikan yang perlu dikembangkan.
Memang, perasaan cinta yang tulus dan ikhlas ini akan terasa sulit diejawantahkan. Apalagi menjadi seorang pendidik adalah suatu “keterpaksaan”. Terpaksa karena sulitnya cari pekerjaan lain. Terpaksa karena sudah kadung 200 juta nombok. Terpaksa jual beli apa saja sebagai sampingan. Terpaksa murid di kelas ditinggalkan. Terpaksa membiarkan contek bersama sebab ujian harus diluluskan. Sebuah ironi pendidikan. Maka, haruslah bangkit karena sadar diri. Bukan sebab telah sertifikasi.
Ada hubungan yang signifikan antar sadar diri (tahu diri ) dengan kepekaan rasa. Peka rasa adalah landasan untuk bisa sadar diri. Sedangkan peka rasa adalah mudah terangsangnya indra hati terhadap sesuatu.( Kamus Besar Bahasa Indonesia). Peka rasa identik dengan peka hati. Bahkan dalam segmen agama , hati dapat menentukan arah kebaikan atau keburukan. Maka pembelajaran untuk kepekaan hati ini sangatlah urgen pada pendidikan. Agar budaya peka hati dapat tertanam sedini mungkin dalam diri peserta didik yang kelak akan menjadi warga bangsa. Peserta didik perlu terapi hati.
Sastra dapat menjadi salah satu pilihan dalam terapi hati ini. Dengan syarat, Pembelajaran Sastra adalah Penikmatan Sastra. Aplikatif sesuai jenjang pendidikan yang ada. Bukan teoritis akademis. Peserta didik diajak menikmati produk-produk (karya ) sastra yang sarat dengan makna budaya dan kebangsaan. Sebab karya sastra biasanya lahir dari ketulusan dan kejujuran, serta kepekaan seorang pengarang dalam menyikapi hidup dan kehidupan. Pasti karyanya pun mencerminkan hal itu. Tulus , Jujur, dan Peka. Kata – kata yang erat dengan pendidikan karakter.
Lebih jauh fungsi sastra dalam kehidupan masyarakat yakni, 1) Fungsi rekreatif, yaitu sastra dapat memberikan hiburan yang menyenangkan bagi penikmat atau pembacanya,2) Fungsi didaktif, sastra mampu mengarahkan atau mendidik pembacanya karena nilai-nilai kebenaran dan kebaikan yang terkandung didalamnya,3) Fungsi estetis, yakni sastra mampu memberikan keindahan bagi penikmat/pembacanya karena sifat keindahannya,4) Fungsi moralitas, yaitu sastra mampu memberikan pengetahuan kepada pembaca/peminatnya sehingga tahu moral yang baik dan buruk, karena sastra yang baik selalu mengandung moral yang tinggi, dan 5) Fungsi religius, yaitu sastra pun menghasilkan karya-karya yang mengandung ajaran agama yang dapat diteladani para penikmat/pembaca sastra.
Memang terapi tidaklah instan. Membutuhkan waktu relatif lama untuk bisa disebut berhasil. Tetapi, paling tidak Penikmatan Sastra adalah langkah awal menuju bangsa Indonesia yang ramah kembali. Penikmatan Sastra dapat mengikis anarkisme apalagi terorisme. Tidak mustahil !




